The sad truth is, gue kena writer's block! You know, right? When a person/writer couldn't write something because of a sudden inability to produce a new work! Gue gak paham penyebab-penyebab dari penyakit ini karena tiba-tiba aja sesuatu ini menyerang dengan ganasnya. Gue sampe googling 'cara mengatasi writer's block' tapi percuma karena ternyata (menurut gue) penyakit ini tergantung pribadi masing-masing aja sih buat ngatasinnya. Yang kuncinya juga cuma satu yaitu: niat! Kalo gak niat yaudah, the end.
Terjadi banyak peristiwa dikala gue terkena writer's block; seputar perkuliahan, libur pra UAS, waktu UAS, habis UAS, tahun baru, infinite, hasil uas, et cetera et cetera. Dan kayaknya gue gak bakalan nyeritain itu karena ini menyangkut harkat dan martabat, bahaya kalo dunia tau. (lagian juga gaada yang mau tau)
Sekarang gue lagi enjoying life; jadi 99.9% anak rumahan. Kerjaan gue tiap hari sama; bangun tidur, cek sns, mandi, makan, twitteran, sketching (gagal), nulis fanfic kalo nemu ide, baca fanfic, socializing with fellow inspirits, tidur. Udah. Itu aja sih. Kalian-kalian yang menjalani hidup normal (ew.), pasti gak bakalan tau rasanya kayak gimana. Pasti banyak dari kalian yang berpendapat obsesi gue terhadap hal-hal yang berbau korea (wisely speaking, the fangirling thing is not only about a korean band, tho (i.e 1D/5SOS/maze runner, even!)) itu adalah sesuatu yang gak penting. "Duh ngapain sih lo ngurusin ginian? Ngaruh banget sama hidup lo?"
Ngaruh. Karena ini hiburan gue. Karena gue naruh interest (and money. and life. and feelings) sama mereka. Because they entertain me. Enough said.
Gue sampe bikin akun twitter khusus buat fangirling, dan menutup personal account.
Bukan berarti gue menutup akses dengan real life ppl ya, duh, please. Menutup akun twitter bukan berarti gue berhenti menjadi manusia dan beralih menjadi makhluk cyberspace. Meskipun kadang (most of the time, I meant) gue memilih untuk menyendiri dan menjaga jarak dengan teman-teman pas liburan ini. Gue mengakui gue gak normal dan gue nyaris mirip sama anak-anak tumblr yang kerjaannya di rumah berteman sama wifi, maen twitter dan, yah, reblogging gif-gif lucu di tumblr. Sometimes we need a space, you know.
Jadi di kesempatan ini gue akan berbagi cerita tentang ospek di kampus gue.
Dimulai di hari pertama, tanggal 2 September. Semua maba memakai seragam atasan putih dan bawahan hitam, cewek diikat ekor kuda rapi tanpa poni, membawa tas hitam dengan gantungan yang sudah ditetapkan, memakai nametag (yang gak aneh2, tinggal print dan dimasukkan plastic id card), sepatu pantofel hitam plus kaos kaki putih di atas mata kaki. Simple. Bawaan kita di hari pertama pun gak aneh-aneh, semuanya affordable dan mudah kecuali tugas-tugasnya yang pada ujungnya, TIDAK dikumpulkan. Untung gue ngerjain sendiri, kalo beli...bisa hilang sia2 rupiah2 gue. Mungkin berkaca dari kejadian2 di tahun sebelumnya ya, dimana ospek dijadikan ajang perpeloncoan terhadap junior, jadi ospek sekarang dientengin aja. Enteng tapi gak enteng2 banget.
Maba kumpul di depan gedung rektorat berdasarkan cluster masing2. Dari masuk gerbang itu para panitia korlap udah pada tereak2.
"Langkah dipercepat!!" "Tidak ada interaksi!!" "Gak usah lari!!"
Kira-kira itulah kata-kata yang diteriakkan. Awalnya kaget juga sih, suasana hening, adem ayem, tiba2 kakak2nya tereak2 kenceng banget padahal gapake toa. Hebat. Rasa2nya pengen gue tawarin permen herbal biar suara mereka gak serak. Sebenernya gue agak sebel juga sih ditereakin tapi kemudian gue inget sesuatu: ini ospek, men!
Selesai dengan itu, kita kumpul sesuai cluster masing2 dan mengikuti upacara pembukaan dengan khidmat dan menyenangkan. Mulai dari aksi tim Marching Band, paduan suara, aksi color guard, dan lain2 deh pokoknya keren. Setelahnya, kita digiring masuk ke gedung buat penerimaan materi dan acara2 yang lainnya. Singkat cerita kita udah dapet tempat duduk meskipun banyak yang kudu berhimpit2an, dan (something which cannot be missed) panitia korlap yang galaknya ampun2an. Gue kebetulan kan cluster 1, kebagian duduk di tribun, alhamdulillah bgt dah. Jadinya gue bisa ngeliatin suasana hiruk pikuk yang pada kebagian duduk di bawah. Dan gue memperhatikan satu panitia korlap, yang dandanannya islami sekali, memakai rok sendiri diantara panitia lain yang terlihat garang dengan setelan hitam dan merah. Si panitia islamiah ini ya, kalo diantara panitia yang laen, suaranya paling kenceng sendiri. Gue yang duduk di tribun sampe ngeri ngebayangin jadi maba yg duduk di bawah, gak pengang apa ya telinganya.
Penampilan seseorang benar2 menipu, ya, kawan.
Lalu selanjutnya ada banyak ceramah dari dekan dan kawan2, dari perwakilan aktivis mahasiswa kampus, sampe ishoma. Setelah ishoma, lanjut materi2 lagi. Jujur, kawan, mungkin semua susunan acara ini menyenangkan dan bermanfaat, tapi gue ngantuk berat jadinya gak fokus. Fokus gue malah pas acara mau habis, ada stand-up comedy, oi! Favorit banget pokoknya. Biasanya gue kalo sama comic itu cocok2an ya joke-nya. Sampai detik ini, gue cuma cocok sama Ryan Adriandhy dan Dodit Mulyanto, yang laen gue gabisa ketawa. Ajaibnya, sama comic asli kampus ini gue bisa nyambung bgt asli orangnya menghibur. Mungkin karena joke-nya juga gak lepas dari fenomena2 riil yang terjadi di daerah gue sendiri. Sayang, segalanya harus berakhir dan gue gatau bisa liat dia stand-up lagi kapan. Singkatnya, hari pertama selesai lah.
OSPEK. MOS, kalo jaman kita sekolah menengah. Lo tau apa? Sebut gue idiot atau bodoh atau terserah, tapi gue gak tau kepanjangan dari OSPEK itu apa. Seriusan! Dan gue sama sekali gak berniat buat tau, karena yang muncul di otak gue ketika mendengar OSPEK adalah: senior galak, pemberian materi, tugas, dan barang bawaan yang aneh2 dan ribet. Ketika kita complain tentang tugas2 yang kelewat banyak dan ribet, dosen2 act like there's nothing new 'bout that. Everything seems so ordinary and not out of place, so what is there to be murmured about?
Gitu!
Entah apakah dosen bersekongkol dengan panitia, atau karena mereka pernah mengalami yang lebih kejam dari ini. Opsi kedua yang paling bener, kayaknya. Kalo versi anak mudanya sih mereka kayaknya mencoba untuk berkata semacam ini: "Kalian cuma diginiin doang! Kalian gak tau penderitaan kita dulu kayak gimana!! Sakitnya tuh disini, NAK! DISINI!" *nunjuk pantat*
Indonesia dari dulu emang gini ya orientasinya? Sumpeh lo? Kasian bener.
Selama ini gue cuma bisa iri aja liat film2 luar. Yang orientasinya itu keren2. Mereka pake varsity jaket, hoodie, dan kaos yang ada tulisan universitasnya, terus pegang bendera segitiga yang ada label universitasnya juga, terus kakak seniornya ramah banget. Para mahasiswa baru diajak keliling kampus, trus ntar ada pembagian materinya juga (sama kayak kita), biasanya juga ada game-gamenya. Game yang bikin kita lebih akrab satu sama lain gitu deh.
Iri dah gua.
Kita disini disuruh beli ini itu, dilabelin ini itu, bikin nametag dari anyaman jerami (gak), bikin tugas, pake ini itu, rambut di ini itukan, gitulah, ribet sekaleh. I can complain, but nothing will change. Singkat, padat, jelas, dan lumayan bikin sakit hati. Mungkin semua sudah berubah, mungkin nowadays ospek2 gak sekejam yang terjadi di masa lalu. Dimana banyak korban berjatuhan sampai tewas. Dimana banyak yang dilecehkan. Oke, fine, sekarang bisa dibilang ospek kita sifatnya 'baik' sekali. Compared to the past.
But! Still! Some things don't change!
Kok orientasi kita gini banget sih? Kenapa gak kayak yang di negara2 maju itu aja? Simple, gak ribet, tapi mendidik.
Jawaban mereka mungkin: "Ya mau gimana lagi"
Fine, fine! Sekian opini dari saya kurang lebihnya ya....mau gimana lagi?
Travis thinks it's the perfect day to go out for a walk, since the sun shines so bright that his eyes squint. But apparently not. Not after he broke up with Lizzy yesterday. It's not like he's still in love with her, he's just guilty. That girl is just so into him; her eyes sparkle, she smiles way too wide, she gives Travis all the attention that sometimes Travis would just push her away. This is just too much, Travis thought. He thought he deserves it, but no, he is not, and now he feels so guilty for her. He basically just used her for something he is not even sure about.
His phone vibrates. 'I understand, Travis. Don't worry' it says.
Travis smiles at the message. His chest is no longer as tight as it was just now.
Her good point is that she lets things go easily. If something doesn't go her way then it's okay, it's nothing new, anyway.
Soon, Travis decides to take a tour around the neighborhood. He paddles his bike as slow as possible, enjoying the scenery that he never knew does exist. Three blocks away later, he finds himself looking at the cozy-looking cafe across the street. He remembers that place. He wonders if she still go there to grab some Caramel Iced Coffee.
Just when he is having some thoughts about her, the figure suddenly appears in front him (almost) like a magic. Not really 'in front of him' actually, she's there, across the street, with a tall boy. He knows him, it's his classmate back to his old days in high school, Roy. A loud, happy-go-lucky guy with gummy smile. Funny how he's grinning to himself as soon as he discovered the guy. Even funnier when he remembers he used to be friend with him until last year when he broke up with the girl. Funny. Really.
The girl. Kim. The girl that he used to date for 4 years.
She's his third girlfriend, but she's his first love. She's the most amazing thing that ever happened to him and it was so difficult to let her go. Even until now, he's not even sure himself if he's over her. But seeing the smile on her face when she talks to Roy right now, maybe he is (not). She looks so happy. She looks so perfect. And Travis feels so relieved. At least that girl didn't fall into the wrong hand.
He's still on his bike, looking at the beautiful figure through the not so crowded road and the invisible window glass. After the good ten minutes, she finds him, and everything freezes. His heart thumps rapidly as her eyes find his. And then she smiles. She smiles at him. Travis smiles back and waves his hand at her once, and then he leaves.
The feeling is so great that he smiles all the way back home. His heart couldn't get any lighter than it is right now. Maybe I'm not over her, maybe I look so pathetic, but I don't care anymore, I'll win her. Soon, very soon.